Wednesday, October 31, 2018

Gara-gara Homeschooling

Jumat lalu, saat pelajaran Ekonomi di tempat lesku, murid-murid disuruh maju satu persatu dan mengerjakan soal di papan tulis. Aku, anak homeschooling yang termasuk baru di situ dan belum pernah belajar pelajaran yang berbau akuntansi, juga disuruh maju. Bu guru tau tentang ini dan memilihkanku soal yang paling gampang. Sebelum maju, aku sih sudah mulai paham tentang cara mengerjakannya. Tapi ada beberapa hal yang masih aku bingung, termasuk menulis bentuk jawabannya.

"Ini tulis angka yang ini bu?" tanyaku sambil menunjuk ke kertas soal.

"Iya ya udah tulis bentuk AJP-nya dari catatan Rena yang kamu liat tadi," jawabnya. Astaga, apa pula itu AJP. Saat itu kepercayaan diriku mulai menurun dan intonasi bicara bu guru terdengar ada sedikit rasa kesal. Rasa-rasanya jika aku bertanya apa itu AJP, hanya akan membuatnya tepok jidat dan mempermalukan diriku sendiri di depan kelas. Pertanyaan itu pun kusimpan sendiri.

"Kaya gini bu?"

"Ih bukan, itu loh kan ada di catatan tadii, tulis dulu bebannya, baru kamu tulis jumlahnya di sampingnya."
"Oh, ng... Berarti bener dong... Eh.."
"Itu kan kamu cuma nulis pengeluaran, bukan beban pengeluaran!"
Oke. Detik itu membuatku sukses merasa seperti orang terbodoh sedunia. Bu guru lanjut menjelaskan  beberapa hal lagi ke aku, kemudian pandangannya beralih ke seisi kelas. Ia mulai berkata, "Anak-anak homeschooling tuh udah pasti lulus, dapet ijazah. Itu sih udah pasti. Tapi jangan tanya keilmuannya."

Jleb.


Setiap ia berbicara padaku, ekspresinya menggambarkan dengan jelas bahwa ia sedang berbicara dengan orang yang tak tau apa-apa. Ya walaupun memang benar, sih, aku saat itu masih nol dalam pelajaran Ekonomi. Kurasa seisi kelas yang hanya berisikan lima orang itu menangkap pancaran yang sama darinya.


"Ibu bukan maksud merendahkan ya," lanjutnya, seakan menjawab suara hatiku. "tapi emang gitu kenyataannya." Ok. Wow. Setengah hati ingin menyangkal dan memberontak, tapi sisa hati tau perkataan beliau ada benarnya. Aku pun berusaha untuk tenang dan menjernihkan pikiran, membiarkannya berbicara panjang lebar tentang apa yang ia tau tentang homeschooling.


Setidaknya, aku jadi tau bagaimana pandangan orang berbeda-beda tentang homeschooling. Dan dari semua itu, terkadang mereka tak sepenuhnya benar namun juga tak sepenuhnya salah. Bu guru bercerita bagaimana ia merasa kasihan terhadap para murid homeschooling karena mereka lebih banyak di rumah daripada berinteraksi dengan orang-orang. Bagaimana ia tak terlalu suka dengan cara belajar menggunakan website pelajaran dan gurunya hanya sebatas video. Bagaimana ia menganggap bahwa yang wajar homeschooling itu para artis karena mereka sibuk.


Dari apa yang keluar dari mulutnya, tampaknya belum begitu banyak citra baik homeschooling. Meskipun apa yang dikatakannya tak sepenuhnya salah, ya. Namun izinkan aku bersuara mengenai homeschooling dari sudut pandangku. Aku paham saat bu guru bilang bahwa ia merasa kasihan pada anak-anak homeschooling karena banyak dari mereka yang terlalu banyak di rumah daripada berinteraksi dengan orang dan tak bisa belajar dengan cara bertatap muka dengan guru secara langsung. Dalam hal ini, jujur saja aku tak menyangkal karena aku pun juga sempat merasakannya.


Jujur saja, awal masuk homeschooling, aku sama sekali tidak punya teman ataupun tujuan. Waktu luangku terlampau banyak, tapi karena dilakukan untuk hal-hal yang tak terlalu jelas, lama-lama aku merana juga. Kosong. Membosankan dan tidak enak. Saat itu, setiap bangun tidur yang kurasakan adalah hampa karena aku tau sampai waktu tidur lagi tiba nanti malam, aku hanya akan menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak terlalu penting, seperti internetan sepanjang hari.


Hal ini berlangsung selama kurang lebih dua tahun sebelum akhirnya aku menciptakan tujuan. Dalam hal ini, apa yang dikatakan bu guru tadi betul. Bahwa anak homeschooling jadi terkesan 'kasihan'. Namun apa yang membuat perkataan itu terasa benar? Kurasa, jawabannya adalah, kehidupan anak-anak homeschooling baru akan terasa menyedihkan jika mereka tak memiliki tujuan yang jelas. Karena saat kita tak memiliki tujuan, biasanya kita hanya akan melakukan hal yang sebatas 'mengusir kebosanan' saja, bukan? Kita tak memikirkan hal yang sedang kita lakukan ini bakal membentuk kita jadi pribadi seperti apa esok lusa. Alhasil, kita jadi hanya melakukan hal jangka pendek, dan jika ini terus dilakukan dalam jangka waktu yang lama, bisa berdampak buruk dan hidup kita akan seterusnya begitu-begitu saja entah sampai kapan. Inilah yang banyak terjadi pada anak-anak homeschooling yang bu guru bilang 'kasihan'. Tapi bukankah hal ini berlaku bukan cuma untuk anak homeschooling saja, tapi juga seluruh umat manusia?



Kalau menanggapi si ibu guru sih, aku hanya ingin memperjelas, bahwa sebenarnya, homeschooling bisa menjadi sangat beragam. Semua tergantung pada orangtua yang berperan sebagai kepala sekolah, dan yang terpenting, tergantung apa yang ingin si anak cari. Contohnya, Andri Rizki Putra, dulunya adalah anak yang putus sekolah, namun ia tak pernah putus belajar. Kini, ia kuliah di Amerika dan telah membangun YPAB (Yayasan Pemimpin Anak Bangsa), yaitu rumah belajar gratis yang menekankan kejujuran.

Tapi di sisi lain, tak sedikit pula anak-anak homeschooling yang belum memiliki tujuan yang pasti, sehingga waktu berlimpah yang mereka punya dipakai untuk mencari kesenangan sesaat saja. Belum lagi sekarang adalah zamannya elektronik, jadi sangat mungkin untuk seorang anak mengurung diri di kamar sambil bermain game atau internetan sepanjang hari (seperti aku dulu, uhuk). Lagi-lagi, bagus atau tidaknya kualitas homeschooling tergantung pada apa yang dilakukan si anak (menurutku).

Homeschooling bisa membantu seseorang terbang jauh lebih cepat merealisasikan mimpi-mimpinya, atau membuat yang tak punya tujuan semakin terpuruk. Karena saking bebasnya, satu-satunya yang harus dilawan seorang homeschooler adalah dirinya sendiri. Dan itu yang tersulit. Namun sekalinya berhasil, ia pasti juga tak akan menyangka dengan potensi diri yang dimiliki. Pasti bakal ngerasa, "Astaga, ternyata gue bisa ngelakuin hal sehebat ini."

Berdasarkan pengalaman dan analisisku (eaa), kehidupan seseorang baru akan terasa kosong dan menyedihkan jika ia TAK PUNYA TUJUAN dan hanya melakukan aktivitas yang kurang BERMAKNA. Sebaliknya, jika seseorang PUNYA TARGET tentunya ia akan melakukan hal apa saja agar targetnya tercapai. Dan ketika berhasil, ia akan merasakan nikmatnya sebuah pencapaian dan ini akan menjadi bensin untuk mengantarkannya ke pencapaian selanjutnya. Dan hal ini, bisa dibilang, dapat membuat hidup seseorang terasa BERMAKNA.

Bagiku pribadi, homeschooling telah memberikan banyak kesempatan dan pelajaran berharga yang belum pernah kudapat di sekolah biasa.
Gara-gara homeschooling, aku jadi lebih banyak berkontemplasi dan punya waktu untuk menggali diriku sendiri. Aku jadi banyak belajar tentang makna hidup dan tentang pendidikan sebenarnya. Gara-gara homeschooling, aku bisa lebih menyaring orang-orang mana saja yang kuingin dan tak kuingin ada di sekitarku. 
Gara-gara homeschooling, aku akhirnya bisa menemukan makna dari apa saja yang kulakukan, dan bisa memilih untuk tidak melakukan hal yang kurasa tak begitu penting untukku.
Aku jadi bisa punya kendali lebih atas hidupku dan menentukan hal-hal apa saja yang patut dijadikan prioritas.
Gara-gara homeschooling, aku bisa menikmati tempat-tempat yang aku mau saat orang lain ada jadwal sekolah atau kerja, hehe. Aku bebas mengendalikan kebebasanku. Aku juga akhirnya telah menemukan cara belajarku sendiri.
Dan yang terpenting, gara-gara homeschooling, aku telah menemukan alasan-alasanku untuk tetap belajar sampai mati, meski disuruh atau tidak.
Kau boleh berbeda pendapat, tapi gara-gara homeschooling, aku menemukan kebahagiaan sejati.
Ini di luar ekspektasiku, tapi aku, yang dulu sempat merasa malu jadi anak homeschooling, kini justru menemukan makna hidup lewatnya. Sesuatu yang selama ini kucari.

Bagiku, homeschooling memberi para pelajarnya ruang bernapas untuk merayakan perbedaan dan keunikan masing-masing. Sesuatu yang tak bisa kutemukan saat duduk di sekolah formal. Sebenarnya homeschooling dan sekolah formal memiliki keuntungan dan kekurangan masing-masing. Jadi mau kamu homeschooler atau sekolah formal, seorang pelajar atau pengangguran, manusia atau bukan, pesan yang mau kusampaikan sih satu: Temukan tujuanmu hidup di dunia ini. Dah gitu aja, dadah! Semoga berhasil!

Wednesday, October 24, 2018

Bumi, Maafkan Kami

Sumber: clker.com
Ini tahun 2018.
Berbagai bencana kian terjun bebas.
Entah karena hari akhir semakin dekat,
Atau marahnya Tuhan pada yang berbuat jahat.
Yang kutau pasti, bumi semakin tua.

Bumi, maafkan kami yang tak pandai merawatmu.
Kau adalah sumber dari apa-apa yang kami butuhkan.
Kau beri kami air, makanan, dan sumber segala yang sehat.
Kau selalu menyuguhkan yang terbaik.
Lantas apa balasan kami?
Dengan merusak, mengotori, dan meracunimu.

Kami tebang seluruh kayu megahmu hingga yang tinggal di sana tak lagi punya rumah.
Kami penuhi lautmu dengan sesaknya benda-benda ciptaan kami, hingga yang di dalamnya mati sakit menelan semua itu.
Kami renggut semua yang tumbuh dari tanahmu, dan nyawa-nyawa yang bersemayam di atasnya.

Bumiku, maafkan kami, para predator terganas yang pernah ada.
Meski rasa-rasanya mustahil untuk bisa memaafkan perbuatan biadab yang kami buat.
Bumiku, jika kau marah, beri dulu kami tanda-tanda,
dan kirimkan yang tak selamat agar sampai ke surga. 

Thursday, October 18, 2018

A Magical Light

Sumber: tumblr.com

Ini!
Kukirimkan segenggam cahaya
bagi yang kerap lelah karena harus memakai topeng 'baik-baik saja'
Yang sudah menenggak air keras bermerek Hidup
Yang dianggap 'terlalu aneh' untuk bisa menyatu dengan yang lain
Yang tengah disapa bencana alam
maupun bencana perasaan
Yang lupa kapan terakhir kali merasakan damai
Yang baru saja disambut kehilangan
Yang sedang ditusuk sepi
—dan yang menikmatinya
Yang sedang berperang dengan waktu,
hidup,
atau
diri sendiri

Thursday, October 11, 2018

Mati di Rumah Sendiri

Sumber: www.nrdc.org

Kami makhluk perairan yang perlahan kalian singkirkan.
Rumah kami tak lagi ramah, sumpah!
Kini hanyalah ruangnya sampah
yang tiap detik semakin melimpah.

Warna laut kini telah larut.
Sang biru mulai berganti warna baru,
warna keruh yang melahap dengan kecepatan penuh.

Bagi kami, lautan adalah satu-satunya rumah
sekaligus tempat menjelajah
namun malah kalau jajah.
Satu-satunya tempat berlabuh,
namun yang ada, kami malah terbunuh.

Tempat kami dulu merasa bebas kini berubah ganas.
Kehidupan yang pernah teduh kalian buat gaduh.
Hei, biarlah kami hidup tenang.
Mengapa selalu kau ajak perang?

Wednesday, October 03, 2018

Bali

foto oleh: aku

Pulau dewata,
aku ingin menjadi sebijak air-airmu,
setenteram pagi-pagimu,
sebebas angin-anginmu

Aku ingin membenamkan diri ke seluruh ajaibmu
Tinggal sebentar di sana, mungkin
Lalu keluar dengan rasa ringan,
melunturkan para beban
yang memang pantas dihanyutkan

Tampaknya, susah untuk merasa bosan disuguhimu tiap hari
Langit yang ahli berdansa dengan gradasi,
gulungan ombak merdu nan apik,
pasir yang lembutnya mewakili kamu

Dosis sesederhana ini sebabkan aku lupa
apa yang kurang dari hidup
Jika memang begitu, tolong
ingatkan aku
agar selalu lupa




Thursday, September 20, 2018

Satu Minggu yang Amat, Sangat Baik



Buku telah menjadi sahabatku sejak dulu. Mereka seperti semesta-semesta dalam genggaman yang sekali diselami akan membawaku pergi amat, sangat jauh dan merasakan hal yang amat, sangat gila. Aku tidak pernah merasa kesepian bersama buku (apa lagi jika itu buku tulis atau novel-novel favoritku). Mereka bisa menjadi tempat pelarian, kawan hidup, sekaligus guru. Dapat pula membuatku marah, menangis, tertawa keras, bahagia, dan lupa waktu. Namun ada satu kata tepat yang menggambarkan rasaku terhadap buku: candu.


Sudah lama rasa ini hilang. Entah karena aku merasa kehabisan bahan bacaan atau belum ada yang menyulutku. Obsesiku terhadap buku baru bangkit kembali sejak minggu lalu. Satu minggu yang berhasil mengobarkan kembali api cintaku pada buku. Satu minggu yang amat, sangat baik.

Pada tanggal 10-11 September lalu, aku berkesempatan mengikuti acara Litbeat Festival, yaitu sebuah acara yang berisi beragam talkshow, seminar, dan panel discussion, dengan menghadirkan 59 narasumber dari seluruh dunia. Acara tersebut diadakan di Perpustakaan Nasional.

Aku dan kenalan-kenalanku dari Komunitas Supernova menghadiri acara tersebut. Bisa mengenal orang-orang yang juga mencintai dunia buku dan bisa diajak ke acara-acara seperti ini merupakan kebahagiaan tersendiri buatku, he he he. Kami juga bisa memilih kelas mana saja yang mau diikuti.



Pada hari pertama, aku mengikuti kelas panel discussion bertema Menyajikan Buku Terbaik Untuk Sekolah dan Desa. Di kelas ini dijelaskan tentang upaya-upaya yang dilakukan untuk meningkatkan pelayanan desa-desa di Indonesia, terutama dalam membangun minat baca dengan menyediakan fasilitas yang memadai. Aku juga jadi tahu bahwa waktu membaca per minggu rata-rata orang di India adalah 10 jam 42 menit, sementara di Indonesia, tebak berapa? Hanya enam menit! Yap, aku ulangi, setiap minggu rata-rata orang Indonesia membaca cuma enam menit! Anggaplah sehari libur membaca, sisanya satu hari cuma membaca satu menit! Wow, lebih lama nunggu Gojek, bos!

Fakta ini begitu miris, padahal bangsa yang cerdas adalah bangsa yang melek literasi. Jadi nggak heran kalau banyak warganet Indonesia udah ngamuk-ngamuk duluan kalo baca sepintas judul berita, padahal baca isinya sampai habis aja belum. He he.


Kelas selanjutnya yang aku ikuti berjudul Kiat dan Siasat dalam Self Marketing oleh Ika Natassa, penulis yang namanya sudah tak asing lagi. Ia berbagi cerita tentang mempromosikan karyanya lewat media sosial. Baginya, media sosial tak seharusnya dipandang sebagai penyebab manusia zaman now meninggalkan buku. Sebaliknya, kak Ika memandangnya sebagai alat pendukung dan pelengkap untuk mempromosikan karyanya pada audiens yang lebih luas.


Berkat kelihaiannya dalam memanfaatkan sosmed, ia diajak berkolaborasi dengan Twitter untuk melakukan polling yang kemudian hasil polling tersebut dijadikan data untuk bukunya yang berjudul The Architecture of Love. Tak hanya itu, kak Ika juga dapat tiket PP gratis ke New York, salah satu setting yang ada di bukunya yang menjadi tempat impiannya! Aku membawa pulang segudang ilmu, cerita, dan kebahagiaan dari kelas kak Ika Natassa.


Hari kedua juga tak kalah seru. Keesokannya, pada tanggal 11, aku mengikuti kelas Ilustrasi Sebagai Cara Bertutur Baru yang mengundang Lala Bohang dan Dinda Puspitasari, From Page to Platform oleh Tatsuki Hirayanagi, dan Judul Keren dan Sinopsis Menawan yang diisi oleh Djoko Lelono! Ah, bahagiaaa sekali bisa mengetahui isi pikiran dari orang-orang hebat ini dan mencuri ilmu mereka.


Ada satu kejutan tak terduga di hari kedua ini. Ternyata, Dee Lestari panutanku juga menjadi peserta di salah satu kelas hari itu! Aku dibocorkan tentang berita ini oleh kak Ditta, seorang teman dekatnya yang kebetulan adalah kenalanku juga. Mendengar itu, aku langsung membawa dua buku untuk meminta tanda tangan! Dan...




Berhasil! Temanku tak sengaja melihatnya hendak naik eskalator turun. "Eh iya, itu dia!" Aku langsung kegirangan dan mengejarnya. Temanku itu ketinggalan dan rempong membawa barang bawaanku yang sengaja kutinggal demi mengejar mbak Dee. He he, maap ya kak Deby. Berdua di eskalator, aku menanyakan mbak Dee beberapa pertanyaan yang sudah kutulis di telapak tangan agar tidak lupa karena aku tahu bakal gugup. Dan benar, berbicara kepadanya membuat kakiku mendadak menjadi spaghetti.


Sesi penutupan pun tiba. Penghujung acara inilah yang paling kutunggu-tunggu karena bintang tamunya adalah Joko Pinurbo dan Oppie Andaresta! Jokpin merupakan penyair yang puisi-puisinya sudah tersebar luas di Indonesia. Salah satu bukunya yang kupunya berjudul Selamat Menunaikan Ibadah Puisi. Sementara kak Oppie adalah seorang musisi yang namanya pernah disebut sebagai penyanyi terbaik no. 1 di Rolling Stones Indonesia.


Di upacara penutupan ini, kak Oppie mengaransemen beberapa puisi Jokpin menjadi lagu. Ia menyanyikannya sambil memainkan gitar kecil dengan sangat indah. Bahkan Jokpin, pencipta puisinya sendiri pun, sampai mengatakan ia tidak pernah membayangkan puisinya jadi bisa terdengar sebagus itu, hahaha. Beliau juga menjawab setiap pertanyaan dengan cerdas, jujur, kocak, namun apa adanya. Hal ini membuatku tambah menyukainya berkali lipat. Dengan Jokpin dan Oppie Andaresta di akhir acara, hari ditutup dengan amat sempurna, dan senyumku masih membentang di atas motor Gojek menuju rumah.




Hari itu, kak Ditta mengabarkan kepada kami kalau MakSur alias mbak Dee Lestari akan menerima penghargaan di IIBF (Indonesia International Book Fair) besoknya. Setelah dua hari yang tak terlupakan di acara Litbeat Festival, tampaknya hidup masih mau memberikan hadiah kecil untukku. Tanggal 12, paginya aku langsung meluncur ke acara IIBF dan menyaksikan MakSur menerima penghargaan novelnya, Aroma Karsa, yang menang kategori Book of The Year. Aku bersorak paling keras di sana. Dengan bangga.


Hari itu di IIBF, aku bersama dua kenalanku menghabiskan waktu di Zona Kalap (zona yang punya diskon 50%-80%) dan makan siang sambil berbincang. Hari itu juga, aku memborong sembilan buku. Aslinya 11 sih, karena dua lagi kubelikan untuk adikku Hafidz. Sembilan untukku semua. He he.


Setelah hari itu, aku berjanji untuk tidak membeli buku lagi setelah mendengar dompetku mulai menangis. Ya gimana, mau nggak mau harus hemat, lah! Tanggal 12 itu, ketika aku memilih-milih buku juga sebenarnya ada beberapa buku yang harus terpaksa kubalikkan ke tempatnya karena sudah melebihi budget. Selamat tinggal, chayank~


Besok lusa, tanggal 14, aku meluncur lagi ke IIBF. Kali ini bukan untuk membeli buku, kan aku sudah janji (ya walaupun kegoda-goda sedikit). Tapi untuk menghadiri talkshow Ziggy Zezsyazeoviennazabriskie, penulis asal Indonesia yang karyanya sangat unik, seperti namanya. Iya, asal Indonesia. Gak nyangka kan? Haha sama, awalnya aku juga nggak tahu karena terkecoh namanya. Malah Ranu dan Anjar mengira dia orang Russia saat aku menyebut namanya. Hahaaa ketipu juga kalian.



Pada hari terakhir IIBF, tanggal 16, tebak aku ngapain? Yak, ke sana lagi, hehe. Awalnya aku ingin pergi sendiri diantar keluarga, kemudian keluargaku mau pergi ke mal. Tapi akhirnya jadi kami sekeluarga ke IIBF dan keluarga tidak jadi ke mal, soalnya aku berhasil membujuk mereka. Aku jadi senang karena keluarga jadi ikutan beli buku. Alhamdulillah, virus tersebar.


Saat itu, aku masih belum membeli buku lagi agar dompetku tidak menangis tambah kencang. Namun setelah salat maghrib dan isya, entah keajaiban salat atau rezeki anak solehah, atau gabungan keduanya, kata-kata ajaib keluar dari mulut papa.


"Erika kalau masih mau beli buku boleh, gak ada batasan harga." Wow. WOw. WOWWWWW, oke, atur nafas. TAPI GAK BISA! Aku langsung lompat dari tempat duduk.

"Serius pa???" Tanyaku basa-basi padahal sebenarnya udah kedengeran jelas.
"Iya," jawab papa.

Hafidz yang awalnya nggak begitu antusias dengan buku ikut kegirangan melihat kakaknya girang. Kami berdua langsung bergandengan dan lari macam lomba marathon, berusaha sesegera mungkin melahap buku-buku yang kami mau sebelum tutup. Aku berjumpa lagi dengan buku-buku yang awalnya kukembalikan. Halo lagi, chayank~


Aku tidak tahu kebaikan apa yang telah kulakukan hingga mendapat anugerah bertubi-tubi seperti ini. Dapat menghadiri acara literasi selama dua hari yang isinya orang hebat semua, ketemu banyak penulis kesukaanku, sampai dikasih kesempatan memborong buku tak terbatas! Ya Allah, terima kasih yang sangat banyak. Aku bahagia pake banget. Kuharap kalian juga dapat kesempatan serupa atau bahkan lebih baik dengan apa yang kalian suka.


Kalau kamu punya mimpi, simpan saja di hati, sambil berusaha mendapatkannya. Semesta mendengarkan, dan akan mewujudkannya di waktu yang tepat. Percayalah, aku sudah merasakannya.


Thursday, September 06, 2018

Nadin


Ikalmu adalah pusaran waktu,
menyimpan keajaiban di setiap lingkarnya
yang tak pernah ingin kuselesai jelajahi
meski 70 tahun lagi

Terkadang aku keliru, apakah itu hati atau slime?
Peluru yang telah meledakkannya tanpa aba-aba
Terjun bebas yang entah keberapa kali
Dirusak bagaimanapun, tampaknya ia tahu
cara menyatu kembali
tanpa menjadi keras
tanpa menjadi beku

Bulan yang satu ini jujur
Setidaknya pada insannya sendiri
Bulan kali ini semakin diasah bijak
Ia tahu kapan saatnya menjadi sabit, purnama,
atau gerhana
atau sepenuhnya menyatu di balik awan

Aku pernah punya hari amat baik
Hari di mana akhirnya aku bertemu si pemilik hati slime
Tapi tak lama, aku terbangun dari hari itu
Ah, lagi-lagi

Namun tak mengapa
Sisa hari nyataku tetap terasa lebih baik
karena aku tahu telah dihibur alam mimpi
yang telah menghadirkan ledakkan cahaya lembut:
Kamu