Wednesday, August 01, 2018

Sapien


Spesies ini merupakan yang paling cerdas (katanya) bin rumit.
Diketahui paling inovatif menciptakan alat yang akan membinasakan kaumnya sendiri.
Merasa paling berkuasa hingga merenggut hak spesies lain dianggap biasa.

Mereka terbuat dari serpihan kesombongan dan ego.
Yang ambisius berlomba memiliki, yang bijak berlatih melepaskan.

Spesies ini dikenal spesies lain sebagai ancaman paling berbahaya.
Merisaukan spesies plantae karena pemusnahannya terhadap kaum mereka mustahil berhenti.
Meresahkan spesies animalia hanya untuk 'hiburan' semata.

Wednesday, July 25, 2018

Obat Untuk Yang Tak Berwujud



sumber: http://deviantart.com/


Sebagai seseorang yang dari kecil sadar bahwa aku telah merasakan banyak hal, ‘emosi’ dan ‘kesehatan mental’ menjadi salah satu hal yang menarik perhatianku. Akhir-akhir ini, aku sedang ketagihan mempelajari tentang self-healing atau cara menyembuhkan diri sendiri.

Pertama kali aku tahu istilah self-healing yaitu lewat channel YouTube Reza Gunawan, seorang praktisi kesehatan. Sekitar seminggu yang lalu ia mulai mengunggah video-video tentang kesehatan mental dan self-healing di IG TV miliknya, @rezagunawan. Akhirnyaaa! Sesuatu yang kutunggu-tunggu akhirnya terjadi juga. Aku tahu tentang Mas Reza karena ia adalah suami Dee Lestari, penulis favoritku. He he he. Bagiku, merekalah definisi relationship goals karena hubungan yang mereka miliki merupakan hubungan yang sehat, jujur, dan realistis. Ah, sebuah hal yang langka ditemukan.

Oke balik ke topik. Satu hal yang kusadari, kesehatan mental merupakan hal yang amat krusial, namun belum banyak orang yang menyadarinya. Terlebih di Indonesia. Di sini, tak jarang jika seseorang menampakkan emosinya yang kurang baik bakal dikatakan baper, kurang bersyukur, dan sebagainya. Namun kabar baiknya, makin ke sini aku semakin melihat bahwa tambah banyak orang mulai sadar betapa pentingnya peran kesehatan psikis dan mulai berani membicarakannya kepada audiens yang lebih luas.

Di bawah ini merupakan poin-poin penting yang kudapat setelah menyimak video-video di IG TV Mas Reza.


1. Emosi bagai cuaca; tak bisa diprediksi


Sama seperti cuaca, kita tak bisa tahu pasti kapan emosi tertentu akan datang. Yang kita mesti tahu pasti, mereka sama-sama selalu berubah. Tak pernah kekal. Kita tak perlu takut dengan emosi, sama seperti kita tak perlu takut akan cuaca mendung atau hujan. Salah satu metode yang salah namun sudah umum yaitu ‘kendalikan emosi’.

Emm... Tapi sebenarnya, kawan, emosi merupakan hal natural yang tidak bisa dikendalikan. Jika kita bisa mengendalikan emosi, tentu seluruh manusia akan merasa baik-baik saja. Namun meskipun emosi tak dapat dikendalikan, tapi perkataan dan perbuatan bisa kita kendalikan untuk menjaga keharmonisan hubungan dengan sesama. Yang perlu kita pahami bahwa emosi adalah cuaca jiwa; ia akan datang dan pergi.


2. Positive thinking bisa berdampak negatif


Terdengar seperti paradoks, ya? Lucu memang. Ini merupakan salah satu hal salah kaprah yang sangat umum. Seringkali kita mendengar orang-orang memberi saran seperti, “Cobalah berpikir positif,” ketika ada orang yang sedang sedih atau mengalami emosi negatif lainnya. Bahkan mungkin kita juga pernah mencoba berpikir positif ketika suasana hati sedang tidak nyaman. Niat seperti itu baik, tentu. Tapi apakah cara ini efektif dipakai ketika batin kita sedang terpuruk? Kurasa tidak.

Berdasarkan pengalamanku, berpikir positif memang membantu menekan emosi negatif untuk jangka pendek. Ya, untuk jangka pendek. Namun itu dia, ia hanya menekan emosi tersebut kembali ke dalam diri. Efek jangka panjangnya, mencoba berpikir positif bisa membuat batin semakin terpuruk jika dilakukan dalam kondisi diri sedang tidak baik. Kalau kata Mas Reza, ketika jiwa kita sedang mengalami emosi negatif, emosi tersebut harus dinetralkan dahulu, baru bisa lebih lancar jika ingin berpikir positif. Bukankah memaksa cuaca untuk terang saat sedang hujan merupakan hal yang melelahkan dan sia-sia?

Sedikit curhat, sekitar setahun lalu, aku selalu mencoba untuk berpikir positif setiap kali ada hal yang membuatku merasa tidak nyaman. Namun melakukan ini selalu terasa seperti terus-terusan menangkis dan menolak merasakan emosi tersebut. Lama-kelamaan, tak henti-hentinya menangkis membuat batinku terasa lelah. Sampai suatu ketika, aku memutuskan untuk berhenti menangkis. Capek, cuy. Akhirnya kutatap mata si emosi negatif ini dan membiarkannya menghantamku sampai ia lelah dan pergi sendiri.

Hasil dari melakukan hal ini lumayan mengejutkanku. Sama seperti yang dikatakan Mas Reza, emosi negatif ibarat pengamen yang suaranya gak enak didengar tapi ngotot mau tampil di panggung. Jadi dari pada tambah ngamuk, kasih aja panggung kecil, biarkan tampil di situ. Nanti kalau udah capek nyanyi juga turun sendiri.

Begitu kira-kira gambaran emosi negatif. Ternyata, seperti yang telah kualami, mempersilakannya masuk membuatnya jauh lebih cepat surut. Namun yang perlu diingat, membiarkan diri untuk merasakan emosi negatif bukan berarti sepenuhnya pasrah dan memilih berlarut-larut dalam kenegatifan tersebut. Kitalah yang mengambil jalan untuk mengobati luka batin itu agar posisi jiwa kita kembali netral. Setelah itu, barulah akan jauh lebih mudah dan efektif untuk berpikir positif.


3. KRAI (Kenali, Rasakan, Akui, Izinkan)


Menurutku ini merupakan jurus jitu mengatasi emosi negatif yang Mas Reza sebut KRAI (Kenali, Rasakan, Akui, Izinkan). Tahap pertama yang harus dilakukan: Kenali. Ketika kita tahu ada emosi negatif yang sedang datang, kenali dulu jenis emosi tersebut. Apakah itu rasa takut? Kecewa? Cemburu? Sedih? Kita harus tahu persis nama emosi apa yang sedang bertamu.

Jika sudah kenalan dengan emosi tersebut, selanjutnya: Rasakan. Coba perhatikan rasa apa yang timbul dari emosi tersebut. Apakah membuat hati terasa tersayat, ingin meledak, atau membuat kepala pusing? Apa emosi tersebut membuatmu merasa tenggelam, hancur berkeping-keping, atau membuat dada sesak? Identifikasi rasa tersebut sedetail mungkin.

Langkah selanjutnya Akui. Kalau kita akui bahwa kita sedang takut, gundah, atau semacamnya, secara sosial ini dianggap sebagai kelemahan. Namun jika kita akui pada diri sendiri, seperti, “Oh, saat ini aku benar-benar marah,” atau “Oke, aku sedang merasa kecewa,” ombak perasaan itu akan naik, berputar-putar dalam diri kita, kemudian menjadi netral dengan sendirinya. 

Tahap yang paling penting, Izinkan. Izinkan dirimu untuk merasakan rasa apa saja yang datang. Tak usah dilebih-lebihkan, tak usah disangkal. Cukup menerima. Dan ketika episode emosi itu sudah selesai, jiwamu akan lebih mudah untuk balik merasa netral seperti terlahir kembali. Damai. Sekali lagi berhasil melewati badai. 

Thursday, July 12, 2018

Jangan Berhenti Mengayuh

https://www.tumblr.com/


Untuk para remaja yang tengah mencari kepingan diri mereka di tiap manusia
Untuk para remaja yang menyimpan kebingungan dari menggali jawaban
Untuk para remaja yang jarang redup saking sibuknya menikmati hidup
Untuk para remaja pemberontak namun juga mudah terseret ombak
Untuk para remaja yang tak pernah lepas dari dunianya sendiri
Untuk para remaja perasa yang berharap sesekali mati rasa
Untuk para remaja pemikir yang angannya selalu banjir
Untuk para remaja goyah yang masih dilapah gundah
Untuk para remaja melankolis sekaligus dramatis
Untuk para remaja penyimpan selaksa rahasia
Untuk para remaja yang tak pernah acuh
Untuk para remaja korban sakit cinta
Untuk para remaja tahan banting
Untuk para remaja pemimpi
Untuk para remaja
Untuk aku

Thursday, July 05, 2018

ASIMETRIS

Tempat tinggalku dikenal sebagai negeri agraris, beriklim tropis.
Ah, surga bagi para turis.
Terdiri dari ribuan pulau dan jutaan remaja galau.
Rumahnya kain batik sekaligus para pemudik. 

Kami punya pegunungan menjulang, serta koruptor yang meradang.
Rempah-rempah kami melimpah, begitu juga dengan sampah.
Di sini, banyak orang terpelajar, namun lebih ramai lagi yang menahan lapar.

Kami punya laut, yang birunya semakin larut.
Bertahap beralih ke warna gelap karena ulah mereka yang tak bertanggung jawab.
Kami punya generasi muda yang bisa mengubah Indonesia.
Entah menjadi makin maju karena ide-ide baru, atau kian terpuruk akibat niatan buruk.

Orang-orang kami bahagia, orang-orang kami sengsara.
Punya tanah air kaya warna, dari putih bercahaya hingga merah membara.

Wednesday, June 06, 2018

Cinta Tak Punya Mata

sumber: https://www.crossconnectmag.com/post/56715930251

Mungkin ia disebut 'jatuh cinta'
Karena mereka yang tengah cinta
Pasti akan jatuh
Dan seketika berubah rapuh

Kurasa orang menyebutnya 'mabuk asmara'
Karena mereka yang merasakannya
Dapat hilang kendali tanpa sadar
Menjadikan logikanya pudar

Jelas saja ada sebutan 'rindu setengah mati'
Ketika perasaan rindu tiba,
Batin seakan setengah merana, setengah mati
Mengetahui yang di sana, sedang jauh dari sini

Tak heran ada frase 'dibutakan oleh cinta'
Atau 'dunia serasa milik berdua'
Tak lupa kata-kata 'gunung kan kudaki'
Juga 'laut pun kan kuseberangi'

Ketika orang sedang 'cinta',
Hal mustahil pun mendadak mudah dilewati
Apakah mereka cinta pada orangnya,
Atau hanya pada perasaan itu sendiri?

Orang bilang, cinta itu indah
Tapi mereka tak pernah bilang
Bahwa ia sepaket dengan rasa gundah

Kata orang, cinta itu sumber kekuatan
Tapi jarang sekali yang mengatakan
Bahwa ia juga bisa menjadi sumber kesakitan

Cinta itu menyembuhkan, ujar mereka
Tapi terkadang kita lupa
Bahwa terlalu banyak dapat beralih jadi racun berbahaya

Entah cinta merupakan anugerah atau kutukan
Bagiku, ia gabungan dari keduanya.

Wednesday, May 30, 2018

Kubangan Pertanyaan

sumber: Favim.com


Kepada siapa air harus kembali?
Pada dekapan laut tempatnya berpulang,
Atau pada awan yang menjadikannya bebas?

Siapa yang lebih butuh kasih sayang matahari?
Manusia yang menggigil karena cinta,
Atau mereka yang telah dibekukan oleh rasa yang fana?

Siapa yang sebaiknya angin ajak bicara?
Insan yang tengah menikam hati sendiri,
Atau mereka yang dipekakkan oleh rasa sepi?

Siapa yang merengek untuk diselimuti malam?
Orang yang terbutakan oleh surya hasrat semu,
Atau mereka yang lelah terpapar teriknya rindu?


Thursday, May 03, 2018

53 Potongan

/Leyro/


Sebagai laki-laki dewasa, belum pernah tangisanku terasa sepilu ini. Rumah duka semakin ramai didatangi para manusia berpakaian gelap. Orang-orang bergantian memelukku sambil melayarkan kalimat belasungkawa, mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Semoga saja yang mereka katakan menjadi nyata, karena saat ini goresan batinku terlalu besar untuk bisa pulih kembali.

Kutatap foto pria yang mirip denganku itu untuk kesekian kalinya. Kureka ulang di benakku semua hal yang pernah kami lakukan bersama. Betapa bahagianya tawa kami saat melihat orang keliru mana Leyro mana Leroy. Saat-saat kami bertukar masuk kelas hanya karena dia tak ingin mengikuti kelas matematika. Membayangkan betapa seringnya kami bertengkar atas hal kecil, namun juga tak terkalahkan ketika sudah bekerjasama. Kami seakan satu, dan kepergiannya berarti kepergian separuh diriku.

Aku tak akan pernah lupa apa yang kulihat ketika masuk ke ruangan itu. Kembaranku yang sudah tergeletak tanpa degup, Nelda yang tengah panik sambil mengguncangkan badan Leroy, dan Manse yang berdiri mematung. Si keparat Manse. Karyawan baru yang pernah masuk penjara entah berapa kali. “Bukan aku yang melakukannya!” Mau seberapa keras kau memasang wajah tak bersalah, tak akan mengubah tampang penjahatmu itu, Manse. Mendadak aku mengutuk atasanku yang menerima orang macam dia di perusahaan kami. Mengucap sumpah serapah dalam hati. Menyalahkan semuanya. Aku sudah tak suka padanya sejak hari pertama ia masuk kantor.

Nelda melangkah cepat ke tempat sampah kecil yang ada di dekatnya, seperti melihat sesuatu. Ia mengambil sebuah botol bertuliskan ‘Cyanide’ dengan gambar tengkorak yang ada di di tumpukan sampah paling atas, lalu mengangkatnya di depan muka. “Manse... Apakah kau yang...?” Nelda menutup mulut, matanya berkaca-kaca. Manse berusaha membela diri semampunya, namun dengan semua bukti yang aku lihat, rasanya tak masuk akal untuk memercayainya. Hanya ada mereka bertiga saat aku masuk ruangan. Aku tak tahan lagi. Semua kekuatan mengalir di kepalan tanganku dan mendarat di wajah Manse.

/Manse/


Aku meringis menahan nyeri dari pipiku yang membesar dan keunguan. Kuremas rambutku di belakang jeruji besi. Ya, badanku penuh tato, mukaku tampak bengis, dan aku sering melakukan tindak kriminal. Tapi itu dulu, tepatnya lima tahun yang lalu. Tak ada satu tindakan kejahatan pun dariku yang tercatat selama lima tahun terakhir ini. Aku sudah berniat meninggalkan kehidupan yang dulu dan sudah banyak berubah. Lagi pula siapa yang ingin menerima orang jahat di perusahaannya?

Kebingungan melanda pikiranku ketika kulihat apa yang sedang terjadi di ruangan itu. Niat hati hanya ingin membuat segelas kopi, tapi pemandangan yang ada di hadapan justru bagaikan salah satu adegan film. Ada apa ini? Mengapa Leroy tergeletak tak sadarkan diri? Beberapa detik kemudian, Leyro membuka pintu, melihat Nelda yang mencoba membangunkan Leroy tapi tak ada respon. Ia dekatkan telinganya pada jantung Leroy dan meletakkan jarinya di bawah hidung pria yang tergeletak tersebut. Muka Nelda berubah, kemudian menggeleng pelan.

Entah apa yang menyebabkan kematiannya, yang jelas tak terlihat luka di tubuh bagian luar. Penyebab itu pasti terjadi secara internal di tubuhnya. Leyro langsung menatap tajam ke arahku. Hei, bahkan menyentuh apapun yang ada di ruangan itu aku belum sempat. Ia baru datang beberapa detik lantas memercayai kesimpulan yang diciptakannya tanpa mencoba lebih jauh mengumpulkan bukti-bukti. Mengapa selalu aku yang disalahkan? Apa hanya karena tampangku? Apakah memang seluruh manusia sebegitu mudahnya memercayai sampul luar?

Sudahlah, tak peduli seberapa banyak fakta yang kusampaikan bahwa aku memang tak  bersalah, tapi dengan rekam jejak yang menghantuiku beserta seluruh tato di tubuh ini, aku akan selalu kalah. Semua ini sudah terlalu melelahkan. Aku berhenti membela diri, membiarkan manusia melakukan apa yang mereka inginkan, dan menyerahkan diri sepenuhnya pada borgol yang rela menjadi sahabatku.

/Nelda/


Kuelus punggung Leyro berkali-kali. Batu nisan itu dipegangnya lama-lama. Orang-orang tak henti-hentinya berdatangan, membuat jalanan kuburan semakin sesak. Aku membawa boks tisu di sampingnya, siap kapan saja ketika Leyro butuh pembendung aliran air matanya yang deras.

Sehari sebelum kematiannya, sesuatu memicuku. Siang itu, aku tengah memakai mesin fotokopi, ketika kemudian... “Nel, saya dulu yang pakai, ya. Buru-buru, nih,” sambar Leroy yang muncul tiba-tiba.

“Oh, barusan naik jabatan jadi boleh nyelak, ya,” jawabku datar.
“Haha, nggak gitu. Tapi kamu sebagai bawahan mungkin bisa patuh sedikit lah,” Leroy mengibaskan tangannya kecil, seperti gestur mengusir.
“Kamu kali tuh, sebagai lulusan Harvard tapi gak pernah diajarin budaya mengantri.”
Weits, enak aja. Jangan asal bicara.”
“Saya cuma bicara berdasarkan apa yang saya lihat.”
“Terserah, saya bisa dengan mudahnya keluarin kamu dari sini kalau kamu nggak tau diri.”

Aku terdiam. Bukan karena takut dipecat. Melainkan sedang memikirkan bagaimana cara membungkam mulutnya. Sebuah ide terlintas di benakku, kemudian membuatku tertawa keras saking bahagianya. Koleksiku akan bertambah tak lama lagi.

Leroy menatapku ngeri. Mungkin karena melihat betapa cepat perubahan ekspresiku dari sedingin kutub utara hingga tiba-tiba panas meledak karena tawa. Pfft, bagiku memainkan ekspresi sama mudahnya dengan membalikkan telapak tangan. Terlepas itu senada dengan perasaanku atau tidak. Eh, sejak kapan aku punya perasaan?

“Silakan pakai mesin ini. Semoga sisa harimu berbahagia!” Aku yang masih tersenyum lebar mempersilakannya menggunakan mesin fotokopi tersebut dengan kedua tanganku, kemudian berjalan pergi.

Hari itu setelah pulang kerja, aku langsung membeli sebuah botol yang isinya amat penting untuk kelancaran misiku besok, kemudian bergegas pulang. Seperti biasa, ritual sebelum tidur, yaitu aku harus menghitung jumlah koleksiku untuk memastikan semua masih lengkap. Mereka kupajang di dinding kamarku yang kemudian kulapisi lagi dengan tirai. Kubuka tirai tersebut dan ya... Jumlahnya masih 52. Lima puluh dua lidah manusia.

Keesokan paginya

Kusiapkan botol itu dan alat pemotong yang kudesain sendiri. Dua benda inilah yang akan membantu memenuhi kebutuhanku. Pagi ini aku akan datang ke kantor lebih awal dan tak lama lagi, jumlah koleksiku akan mencapai 53. Ah, angka favoritku. Tentunya, Leroy akan membantuku mencapai angka tersebut. Mau tak mau.

Hidup adalah panggung teater, dan hanya pemain ulunglah yang dapat menyetir hati penonton. Dan hari ini, saatnya aku kembali beraksi.