Thursday, September 06, 2018
Nadin
Ikalmu adalah pusaran waktu,
menyimpan keajaiban di setiap lingkarnya
yang tak pernah ingin kuselesai jelajahi
meski 70 tahun lagi
Terkadang aku keliru, apakah itu hati atau slime?
Peluru yang telah meledakkannya tanpa aba-aba
Terjun bebas yang entah keberapa kali
Dirusak bagaimanapun, tampaknya ia tahu
cara menyatu kembali
tanpa menjadi keras
tanpa menjadi beku
Bulan yang satu ini jujur
Setidaknya pada insannya sendiri
Bulan kali ini semakin diasah bijak
Ia tahu kapan saatnya menjadi sabit, purnama,
atau gerhana
atau sepenuhnya menyatu di balik awan
Aku pernah punya hari amat baik
Hari di mana akhirnya aku bertemu si pemilik hati slime
Tapi tak lama, aku terbangun dari hari itu
Ah, lagi-lagi
Namun tak mengapa
Sisa hari nyataku tetap terasa lebih baik
karena aku tahu telah dihibur alam mimpi
yang telah menghadirkan ledakkan cahaya lembut:
Kamu
Wednesday, August 29, 2018
OTAK, OH OTAK (1)
Entahlah.
Bagiku, pikiran manusia bisa menjadi lokasi paling mengerikan di dunia.
Tempatnya realita terkadang berubah berkali lipat lebih buruk.
Akar dari prasangka dan ego.
Sumber dari penyakit, kejahatan, dan apa-apa yang merugikan.
Di mana yang sebenarnya simpel dapat menjelma menjadi rumit,
yang biasa jadi merana,
yang seharusnya selesai jadi tak usai-usai.
Seringkali, aku takut pada milikku sendiri.
Pada ekspektasi yang rupanya hanya membebani.
Pada skenario yang kucipta namun tak pernah jadi nyata.
Pada angan-angan berlebihan yang berujung membutakan. Ah, sialan.
Menjinakkan hal liar di balik tengkorak ini butuh waktu.
Juga penempaan yang memaksaku untuk melepaskan.
Agar aku tak bergantung pada yang fana, agar tak kunjung gila.
Thursday, August 23, 2018
Perahu & Sepeda
Kau dan aku tinggal di dunia yang tak sama.
Bagai minyak dan air, atau perahu dan sepeda.
Hampir mustahil untuk menyatu. Takkan bisa melaju jika bertukar pijakan.
Menjadi diri sendiri adalah asing, saling memahami hanyalah ilusi.
Sesalah mencolok charger ponsel pada laptop, rasanya takkan pernah cocok meski dicoba ribuan kali.
Namun, tak mengapa.
Mungkin kita dirancang berbeda, agar bisa berdamai dengan perbedaan.
Kau pakai caramu, aku dengan caraku.
Biarlah perahu menjadi perahu tanpa perlu dipaksa menjadi sepeda.
Setidaknya, ada satu hal sama yang perahu dan sepeda miliki: sama-sama berjalan ke depan.
Wednesday, August 01, 2018
Sapien
Spesies ini merupakan yang paling cerdas (katanya) bin rumit.
Diketahui paling inovatif menciptakan alat yang akan membinasakan kaumnya sendiri.
Merasa paling berkuasa hingga merenggut hak spesies lain dianggap biasa.
Mereka terbuat dari serpihan kesombongan dan ego.
Yang ambisius berlomba memiliki, yang bijak berlatih melepaskan.
Spesies ini dikenal spesies lain sebagai ancaman paling berbahaya.
Merisaukan spesies plantae karena pemusnahannya terhadap kaum mereka mustahil berhenti.
Meresahkan spesies animalia hanya untuk 'hiburan' semata.
Wednesday, July 25, 2018
Obat Untuk Yang Tak Berwujud
Sebagai seseorang yang dari kecil sadar bahwa aku telah merasakan banyak hal, ‘emosi’ dan ‘kesehatan mental’ menjadi salah satu hal yang menarik perhatianku. Akhir-akhir ini, aku sedang ketagihan mempelajari tentang self-healing atau cara menyembuhkan diri sendiri.
Pertama kali aku tahu istilah self-healing yaitu lewat channel YouTube Reza Gunawan, seorang praktisi kesehatan. Sekitar seminggu yang lalu ia mulai mengunggah video-video tentang kesehatan mental dan self-healing di IG TV miliknya, @rezagunawan. Akhirnyaaa! Sesuatu yang kutunggu-tunggu akhirnya terjadi juga. Aku tahu tentang Mas Reza karena ia adalah suami Dee Lestari, penulis favoritku. He he he. Bagiku, merekalah definisi relationship goals karena hubungan yang mereka miliki merupakan hubungan yang sehat, jujur, dan realistis. Ah, sebuah hal yang langka ditemukan.
Oke balik ke topik. Satu hal yang kusadari, kesehatan mental merupakan hal yang amat krusial, namun belum banyak orang yang menyadarinya. Terlebih di Indonesia. Di sini, tak jarang jika seseorang menampakkan emosinya yang kurang baik bakal dikatakan baper, kurang bersyukur, dan sebagainya. Namun kabar baiknya, makin ke sini aku semakin melihat bahwa tambah banyak orang mulai sadar betapa pentingnya peran kesehatan psikis dan mulai berani membicarakannya kepada audiens yang lebih luas.
Di bawah ini merupakan poin-poin penting yang kudapat setelah menyimak video-video di IG TV Mas Reza.
1. Emosi bagai cuaca; tak bisa diprediksi
Sama seperti cuaca, kita tak bisa tahu pasti kapan emosi tertentu akan datang. Yang kita mesti tahu pasti, mereka sama-sama selalu berubah. Tak pernah kekal. Kita tak perlu takut dengan emosi, sama seperti kita tak perlu takut akan cuaca mendung atau hujan. Salah satu metode yang salah namun sudah umum yaitu ‘kendalikan emosi’.
Emm... Tapi sebenarnya, kawan, emosi merupakan hal natural yang tidak bisa dikendalikan. Jika kita bisa mengendalikan emosi, tentu seluruh manusia akan merasa baik-baik saja. Namun meskipun emosi tak dapat dikendalikan, tapi perkataan dan perbuatan bisa kita kendalikan untuk menjaga keharmonisan hubungan dengan sesama. Yang perlu kita pahami bahwa emosi adalah cuaca jiwa; ia akan datang dan pergi.
2. Positive thinking bisa berdampak negatif
Terdengar seperti paradoks, ya? Lucu memang. Ini merupakan salah satu hal salah kaprah yang sangat umum. Seringkali kita mendengar orang-orang memberi saran seperti, “Cobalah berpikir positif,” ketika ada orang yang sedang sedih atau mengalami emosi negatif lainnya. Bahkan mungkin kita juga pernah mencoba berpikir positif ketika suasana hati sedang tidak nyaman. Niat seperti itu baik, tentu. Tapi apakah cara ini efektif dipakai ketika batin kita sedang terpuruk? Kurasa tidak.
Berdasarkan pengalamanku, berpikir positif memang membantu menekan emosi negatif untuk jangka pendek. Ya, untuk jangka pendek. Namun itu dia, ia hanya menekan emosi tersebut kembali ke dalam diri. Efek jangka panjangnya, mencoba berpikir positif bisa membuat batin semakin terpuruk jika dilakukan dalam kondisi diri sedang tidak baik. Kalau kata Mas Reza, ketika jiwa kita sedang mengalami emosi negatif, emosi tersebut harus dinetralkan dahulu, baru bisa lebih lancar jika ingin berpikir positif. Bukankah memaksa cuaca untuk terang saat sedang hujan merupakan hal yang melelahkan dan sia-sia?
Sedikit curhat, sekitar setahun lalu, aku selalu mencoba untuk berpikir positif setiap kali ada hal yang membuatku merasa tidak nyaman. Namun melakukan ini selalu terasa seperti terus-terusan menangkis dan menolak merasakan emosi tersebut. Lama-kelamaan, tak henti-hentinya menangkis membuat batinku terasa lelah. Sampai suatu ketika, aku memutuskan untuk berhenti menangkis. Capek, cuy. Akhirnya kutatap mata si emosi negatif ini dan membiarkannya menghantamku sampai ia lelah dan pergi sendiri.
Hasil dari melakukan hal ini lumayan mengejutkanku. Sama seperti yang dikatakan Mas Reza, emosi negatif ibarat pengamen yang suaranya gak enak didengar tapi ngotot mau tampil di panggung. Jadi dari pada tambah ngamuk, kasih aja panggung kecil, biarkan tampil di situ. Nanti kalau udah capek nyanyi juga turun sendiri.
Begitu kira-kira gambaran emosi negatif. Ternyata, seperti yang telah kualami, mempersilakannya masuk membuatnya jauh lebih cepat surut. Namun yang perlu diingat, membiarkan diri untuk merasakan emosi negatif bukan berarti sepenuhnya pasrah dan memilih berlarut-larut dalam kenegatifan tersebut. Kitalah yang mengambil jalan untuk mengobati luka batin itu agar posisi jiwa kita kembali netral. Setelah itu, barulah akan jauh lebih mudah dan efektif untuk berpikir positif.
3. KRAI (Kenali, Rasakan, Akui, Izinkan)
Menurutku ini merupakan jurus jitu mengatasi emosi negatif yang Mas Reza sebut KRAI (Kenali, Rasakan, Akui, Izinkan). Tahap pertama yang harus dilakukan: Kenali. Ketika kita tahu ada emosi negatif yang sedang datang, kenali dulu jenis emosi tersebut. Apakah itu rasa takut? Kecewa? Cemburu? Sedih? Kita harus tahu persis nama emosi apa yang sedang bertamu.
Jika sudah kenalan dengan emosi tersebut, selanjutnya: Rasakan. Coba perhatikan rasa apa yang timbul dari emosi tersebut. Apakah membuat hati terasa tersayat, ingin meledak, atau membuat kepala pusing? Apa emosi tersebut membuatmu merasa tenggelam, hancur berkeping-keping, atau membuat dada sesak? Identifikasi rasa tersebut sedetail mungkin.
Langkah selanjutnya Akui. Kalau kita akui bahwa kita sedang takut, gundah, atau semacamnya, secara sosial ini dianggap sebagai kelemahan. Namun jika kita akui pada diri sendiri, seperti, “Oh, saat ini aku benar-benar marah,” atau “Oke, aku sedang merasa kecewa,” ombak perasaan itu akan naik, berputar-putar dalam diri kita, kemudian menjadi netral dengan sendirinya.
Tahap yang paling penting, Izinkan. Izinkan dirimu untuk merasakan rasa apa saja yang datang. Tak usah dilebih-lebihkan, tak usah disangkal. Cukup menerima. Dan ketika episode emosi itu sudah selesai, jiwamu akan lebih mudah untuk balik merasa netral seperti terlahir kembali. Damai. Sekali lagi berhasil melewati badai.
Thursday, July 12, 2018
Jangan Berhenti Mengayuh
![]() |
| https://www.tumblr.com/ |
Untuk para remaja yang
tengah mencari kepingan diri mereka di tiap manusia
Untuk para remaja yang
menyimpan kebingungan dari menggali jawaban
Untuk para remaja yang
jarang redup saking sibuknya menikmati hidup
Untuk para remaja pemberontak
namun juga mudah terseret ombak
Untuk para remaja yang tak
pernah lepas dari dunianya sendiri
Untuk para remaja
perasa yang berharap sesekali mati rasa
Untuk para remaja
pemikir yang angannya selalu banjir
Untuk para remaja goyah
yang masih dilapah gundah
Untuk para remaja
melankolis sekaligus dramatis
Untuk para remaja penyimpan
selaksa rahasia
Untuk para remaja yang
tak pernah acuh
Untuk para remaja korban
sakit cinta
Untuk para remaja tahan
banting
Untuk para remaja pemimpi
Untuk para remaja
Untuk aku
Thursday, July 05, 2018
ASIMETRIS
Tempat tinggalku dikenal sebagai negeri agraris, beriklim tropis.
Ah, surga bagi para turis.
Terdiri dari ribuan pulau dan jutaan remaja galau.
Rumahnya kain batik sekaligus para pemudik.
Kami punya pegunungan menjulang, serta koruptor yang meradang.
Rempah-rempah kami melimpah, begitu juga dengan sampah.
Di sini, banyak orang terpelajar, namun lebih ramai lagi yang menahan lapar.
Kami punya laut, yang birunya semakin larut.
Bertahap beralih ke warna gelap karena ulah mereka yang tak bertanggung jawab.
Kami punya generasi muda yang bisa mengubah Indonesia.
Entah menjadi makin maju karena ide-ide baru, atau kian terpuruk akibat niatan buruk.
Orang-orang kami bahagia, orang-orang kami sengsara.
Punya tanah air kaya warna, dari putih bercahaya hingga merah membara.
Ah, surga bagi para turis.
Terdiri dari ribuan pulau dan jutaan remaja galau.
Rumahnya kain batik sekaligus para pemudik.
Kami punya pegunungan menjulang, serta koruptor yang meradang.
Rempah-rempah kami melimpah, begitu juga dengan sampah.
Di sini, banyak orang terpelajar, namun lebih ramai lagi yang menahan lapar.
Kami punya laut, yang birunya semakin larut.
Bertahap beralih ke warna gelap karena ulah mereka yang tak bertanggung jawab.
Kami punya generasi muda yang bisa mengubah Indonesia.
Entah menjadi makin maju karena ide-ide baru, atau kian terpuruk akibat niatan buruk.
Orang-orang kami bahagia, orang-orang kami sengsara.
Punya tanah air kaya warna, dari putih bercahaya hingga merah membara.
Subscribe to:
Posts (Atom)





