Wednesday, October 03, 2018

Bali

foto oleh: aku

Pulau dewata,
aku ingin menjadi sebijak air-airmu,
setenteram pagi-pagimu,
sebebas angin-anginmu

Aku ingin membenamkan diri ke seluruh ajaibmu
Tinggal sebentar di sana, mungkin
Lalu keluar dengan rasa ringan,
melunturkan para beban
yang memang pantas dihanyutkan

Tampaknya, susah untuk merasa bosan disuguhimu tiap hari
Langit yang ahli berdansa dengan gradasi,
gulungan ombak merdu nan apik,
pasir yang lembutnya mewakili kamu

Dosis sesederhana ini sebabkan aku lupa
apa yang kurang dari hidup
Jika memang begitu, tolong
ingatkan aku
agar selalu lupa




Thursday, September 20, 2018

Satu Minggu yang Amat, Sangat Baik



Buku telah menjadi sahabatku sejak dulu. Mereka seperti semesta-semesta dalam genggaman yang sekali diselami akan membawaku pergi amat, sangat jauh dan merasakan hal yang amat, sangat gila. Aku tidak pernah merasa kesepian bersama buku (apa lagi jika itu buku tulis atau novel-novel favoritku). Mereka bisa menjadi tempat pelarian, kawan hidup, sekaligus guru. Dapat pula membuatku marah, menangis, tertawa keras, bahagia, dan lupa waktu. Namun ada satu kata tepat yang menggambarkan rasaku terhadap buku: candu.


Sudah lama rasa ini hilang. Entah karena aku merasa kehabisan bahan bacaan atau belum ada yang menyulutku. Obsesiku terhadap buku baru bangkit kembali sejak minggu lalu. Satu minggu yang berhasil mengobarkan kembali api cintaku pada buku. Satu minggu yang amat, sangat baik.

Pada tanggal 10-11 September lalu, aku berkesempatan mengikuti acara Litbeat Festival, yaitu sebuah acara yang berisi beragam talkshow, seminar, dan panel discussion, dengan menghadirkan 59 narasumber dari seluruh dunia. Acara tersebut diadakan di Perpustakaan Nasional.

Aku dan kenalan-kenalanku dari Komunitas Supernova menghadiri acara tersebut. Bisa mengenal orang-orang yang juga mencintai dunia buku dan bisa diajak ke acara-acara seperti ini merupakan kebahagiaan tersendiri buatku, he he he. Kami juga bisa memilih kelas mana saja yang mau diikuti.



Pada hari pertama, aku mengikuti kelas panel discussion bertema Menyajikan Buku Terbaik Untuk Sekolah dan Desa. Di kelas ini dijelaskan tentang upaya-upaya yang dilakukan untuk meningkatkan pelayanan desa-desa di Indonesia, terutama dalam membangun minat baca dengan menyediakan fasilitas yang memadai. Aku juga jadi tahu bahwa waktu membaca per minggu rata-rata orang di India adalah 10 jam 42 menit, sementara di Indonesia, tebak berapa? Hanya enam menit! Yap, aku ulangi, setiap minggu rata-rata orang Indonesia membaca cuma enam menit! Anggaplah sehari libur membaca, sisanya satu hari cuma membaca satu menit! Wow, lebih lama nunggu Gojek, bos!

Fakta ini begitu miris, padahal bangsa yang cerdas adalah bangsa yang melek literasi. Jadi nggak heran kalau banyak warganet Indonesia udah ngamuk-ngamuk duluan kalo baca sepintas judul berita, padahal baca isinya sampai habis aja belum. He he.


Kelas selanjutnya yang aku ikuti berjudul Kiat dan Siasat dalam Self Marketing oleh Ika Natassa, penulis yang namanya sudah tak asing lagi. Ia berbagi cerita tentang mempromosikan karyanya lewat media sosial. Baginya, media sosial tak seharusnya dipandang sebagai penyebab manusia zaman now meninggalkan buku. Sebaliknya, kak Ika memandangnya sebagai alat pendukung dan pelengkap untuk mempromosikan karyanya pada audiens yang lebih luas.


Berkat kelihaiannya dalam memanfaatkan sosmed, ia diajak berkolaborasi dengan Twitter untuk melakukan polling yang kemudian hasil polling tersebut dijadikan data untuk bukunya yang berjudul The Architecture of Love. Tak hanya itu, kak Ika juga dapat tiket PP gratis ke New York, salah satu setting yang ada di bukunya yang menjadi tempat impiannya! Aku membawa pulang segudang ilmu, cerita, dan kebahagiaan dari kelas kak Ika Natassa.


Hari kedua juga tak kalah seru. Keesokannya, pada tanggal 11, aku mengikuti kelas Ilustrasi Sebagai Cara Bertutur Baru yang mengundang Lala Bohang dan Dinda Puspitasari, From Page to Platform oleh Tatsuki Hirayanagi, dan Judul Keren dan Sinopsis Menawan yang diisi oleh Djoko Lelono! Ah, bahagiaaa sekali bisa mengetahui isi pikiran dari orang-orang hebat ini dan mencuri ilmu mereka.


Ada satu kejutan tak terduga di hari kedua ini. Ternyata, Dee Lestari panutanku juga menjadi peserta di salah satu kelas hari itu! Aku dibocorkan tentang berita ini oleh kak Ditta, seorang teman dekatnya yang kebetulan adalah kenalanku juga. Mendengar itu, aku langsung membawa dua buku untuk meminta tanda tangan! Dan...




Berhasil! Temanku tak sengaja melihatnya hendak naik eskalator turun. "Eh iya, itu dia!" Aku langsung kegirangan dan mengejarnya. Temanku itu ketinggalan dan rempong membawa barang bawaanku yang sengaja kutinggal demi mengejar mbak Dee. He he, maap ya kak Deby. Berdua di eskalator, aku menanyakan mbak Dee beberapa pertanyaan yang sudah kutulis di telapak tangan agar tidak lupa karena aku tahu bakal gugup. Dan benar, berbicara kepadanya membuat kakiku mendadak menjadi spaghetti.


Sesi penutupan pun tiba. Penghujung acara inilah yang paling kutunggu-tunggu karena bintang tamunya adalah Joko Pinurbo dan Oppie Andaresta! Jokpin merupakan penyair yang puisi-puisinya sudah tersebar luas di Indonesia. Salah satu bukunya yang kupunya berjudul Selamat Menunaikan Ibadah Puisi. Sementara kak Oppie adalah seorang musisi yang namanya pernah disebut sebagai penyanyi terbaik no. 1 di Rolling Stones Indonesia.


Di upacara penutupan ini, kak Oppie mengaransemen beberapa puisi Jokpin menjadi lagu. Ia menyanyikannya sambil memainkan gitar kecil dengan sangat indah. Bahkan Jokpin, pencipta puisinya sendiri pun, sampai mengatakan ia tidak pernah membayangkan puisinya jadi bisa terdengar sebagus itu, hahaha. Beliau juga menjawab setiap pertanyaan dengan cerdas, jujur, kocak, namun apa adanya. Hal ini membuatku tambah menyukainya berkali lipat. Dengan Jokpin dan Oppie Andaresta di akhir acara, hari ditutup dengan amat sempurna, dan senyumku masih membentang di atas motor Gojek menuju rumah.




Hari itu, kak Ditta mengabarkan kepada kami kalau MakSur alias mbak Dee Lestari akan menerima penghargaan di IIBF (Indonesia International Book Fair) besoknya. Setelah dua hari yang tak terlupakan di acara Litbeat Festival, tampaknya hidup masih mau memberikan hadiah kecil untukku. Tanggal 12, paginya aku langsung meluncur ke acara IIBF dan menyaksikan MakSur menerima penghargaan novelnya, Aroma Karsa, yang menang kategori Book of The Year. Aku bersorak paling keras di sana. Dengan bangga.


Hari itu di IIBF, aku bersama dua kenalanku menghabiskan waktu di Zona Kalap (zona yang punya diskon 50%-80%) dan makan siang sambil berbincang. Hari itu juga, aku memborong sembilan buku. Aslinya 11 sih, karena dua lagi kubelikan untuk adikku Hafidz. Sembilan untukku semua. He he.


Setelah hari itu, aku berjanji untuk tidak membeli buku lagi setelah mendengar dompetku mulai menangis. Ya gimana, mau nggak mau harus hemat, lah! Tanggal 12 itu, ketika aku memilih-milih buku juga sebenarnya ada beberapa buku yang harus terpaksa kubalikkan ke tempatnya karena sudah melebihi budget. Selamat tinggal, chayank~


Besok lusa, tanggal 14, aku meluncur lagi ke IIBF. Kali ini bukan untuk membeli buku, kan aku sudah janji (ya walaupun kegoda-goda sedikit). Tapi untuk menghadiri talkshow Ziggy Zezsyazeoviennazabriskie, penulis asal Indonesia yang karyanya sangat unik, seperti namanya. Iya, asal Indonesia. Gak nyangka kan? Haha sama, awalnya aku juga nggak tahu karena terkecoh namanya. Malah Ranu dan Anjar mengira dia orang Russia saat aku menyebut namanya. Hahaaa ketipu juga kalian.



Pada hari terakhir IIBF, tanggal 16, tebak aku ngapain? Yak, ke sana lagi, hehe. Awalnya aku ingin pergi sendiri diantar keluarga, kemudian keluargaku mau pergi ke mal. Tapi akhirnya jadi kami sekeluarga ke IIBF dan keluarga tidak jadi ke mal, soalnya aku berhasil membujuk mereka. Aku jadi senang karena keluarga jadi ikutan beli buku. Alhamdulillah, virus tersebar.


Saat itu, aku masih belum membeli buku lagi agar dompetku tidak menangis tambah kencang. Namun setelah salat maghrib dan isya, entah keajaiban salat atau rezeki anak solehah, atau gabungan keduanya, kata-kata ajaib keluar dari mulut papa.


"Erika kalau masih mau beli buku boleh, gak ada batasan harga." Wow. WOw. WOWWWWW, oke, atur nafas. TAPI GAK BISA! Aku langsung lompat dari tempat duduk.

"Serius pa???" Tanyaku basa-basi padahal sebenarnya udah kedengeran jelas.
"Iya," jawab papa.

Hafidz yang awalnya nggak begitu antusias dengan buku ikut kegirangan melihat kakaknya girang. Kami berdua langsung bergandengan dan lari macam lomba marathon, berusaha sesegera mungkin melahap buku-buku yang kami mau sebelum tutup. Aku berjumpa lagi dengan buku-buku yang awalnya kukembalikan. Halo lagi, chayank~


Aku tidak tahu kebaikan apa yang telah kulakukan hingga mendapat anugerah bertubi-tubi seperti ini. Dapat menghadiri acara literasi selama dua hari yang isinya orang hebat semua, ketemu banyak penulis kesukaanku, sampai dikasih kesempatan memborong buku tak terbatas! Ya Allah, terima kasih yang sangat banyak. Aku bahagia pake banget. Kuharap kalian juga dapat kesempatan serupa atau bahkan lebih baik dengan apa yang kalian suka.


Kalau kamu punya mimpi, simpan saja di hati, sambil berusaha mendapatkannya. Semesta mendengarkan, dan akan mewujudkannya di waktu yang tepat. Percayalah, aku sudah merasakannya.


Thursday, September 06, 2018

Nadin


Ikalmu adalah pusaran waktu,
menyimpan keajaiban di setiap lingkarnya
yang tak pernah ingin kuselesai jelajahi
meski 70 tahun lagi

Terkadang aku keliru, apakah itu hati atau slime?
Peluru yang telah meledakkannya tanpa aba-aba
Terjun bebas yang entah keberapa kali
Dirusak bagaimanapun, tampaknya ia tahu
cara menyatu kembali
tanpa menjadi keras
tanpa menjadi beku

Bulan yang satu ini jujur
Setidaknya pada insannya sendiri
Bulan kali ini semakin diasah bijak
Ia tahu kapan saatnya menjadi sabit, purnama,
atau gerhana
atau sepenuhnya menyatu di balik awan

Aku pernah punya hari amat baik
Hari di mana akhirnya aku bertemu si pemilik hati slime
Tapi tak lama, aku terbangun dari hari itu
Ah, lagi-lagi

Namun tak mengapa
Sisa hari nyataku tetap terasa lebih baik
karena aku tahu telah dihibur alam mimpi
yang telah menghadirkan ledakkan cahaya lembut:
Kamu

Wednesday, August 29, 2018

OTAK, OH OTAK (1)


Entahlah.
Bagiku, pikiran manusia bisa menjadi lokasi paling mengerikan di dunia.
Tempatnya realita terkadang berubah berkali lipat lebih buruk.
Akar dari prasangka dan ego.

Sumber dari penyakit, kejahatan, dan apa-apa yang merugikan.
Di mana yang sebenarnya simpel dapat menjelma menjadi rumit,
yang biasa jadi merana,
yang seharusnya selesai jadi tak usai-usai.

Seringkali, aku takut pada milikku sendiri.
Pada ekspektasi yang rupanya hanya membebani.
Pada skenario yang kucipta namun tak pernah jadi nyata.
Pada angan-angan berlebihan yang berujung membutakan. Ah, sialan.

Menjinakkan hal liar di balik tengkorak ini butuh waktu.
Juga penempaan yang memaksaku untuk melepaskan.
Agar aku tak bergantung pada yang fana, agar tak kunjung gila.

Thursday, August 23, 2018

Perahu & Sepeda


Kau dan aku tinggal di dunia yang tak sama.
Bagai minyak dan air, atau perahu dan sepeda.
Hampir mustahil untuk menyatu. Takkan bisa melaju jika bertukar pijakan.

Menjadi diri sendiri adalah asing, saling memahami hanyalah ilusi.
Sesalah mencolok charger ponsel pada laptop, rasanya takkan pernah cocok meski dicoba ribuan kali.

Namun, tak mengapa.
Mungkin kita dirancang berbeda, agar bisa berdamai dengan perbedaan.
Kau pakai caramu, aku dengan caraku.
Biarlah perahu menjadi perahu tanpa perlu dipaksa menjadi sepeda.

Setidaknya, ada satu hal sama yang perahu dan sepeda miliki: sama-sama berjalan ke depan.

Wednesday, August 01, 2018

Sapien


Spesies ini merupakan yang paling cerdas (katanya) bin rumit.
Diketahui paling inovatif menciptakan alat yang akan membinasakan kaumnya sendiri.
Merasa paling berkuasa hingga merenggut hak spesies lain dianggap biasa.

Mereka terbuat dari serpihan kesombongan dan ego.
Yang ambisius berlomba memiliki, yang bijak berlatih melepaskan.

Spesies ini dikenal spesies lain sebagai ancaman paling berbahaya.
Merisaukan spesies plantae karena pemusnahannya terhadap kaum mereka mustahil berhenti.
Meresahkan spesies animalia hanya untuk 'hiburan' semata.

Wednesday, July 25, 2018

Obat Untuk Yang Tak Berwujud



sumber: http://deviantart.com/


Sebagai seseorang yang dari kecil sadar bahwa aku telah merasakan banyak hal, ‘emosi’ dan ‘kesehatan mental’ menjadi salah satu hal yang menarik perhatianku. Akhir-akhir ini, aku sedang ketagihan mempelajari tentang self-healing atau cara menyembuhkan diri sendiri.

Pertama kali aku tahu istilah self-healing yaitu lewat channel YouTube Reza Gunawan, seorang praktisi kesehatan. Sekitar seminggu yang lalu ia mulai mengunggah video-video tentang kesehatan mental dan self-healing di IG TV miliknya, @rezagunawan. Akhirnyaaa! Sesuatu yang kutunggu-tunggu akhirnya terjadi juga. Aku tahu tentang Mas Reza karena ia adalah suami Dee Lestari, penulis favoritku. He he he. Bagiku, merekalah definisi relationship goals karena hubungan yang mereka miliki merupakan hubungan yang sehat, jujur, dan realistis. Ah, sebuah hal yang langka ditemukan.

Oke balik ke topik. Satu hal yang kusadari, kesehatan mental merupakan hal yang amat krusial, namun belum banyak orang yang menyadarinya. Terlebih di Indonesia. Di sini, tak jarang jika seseorang menampakkan emosinya yang kurang baik bakal dikatakan baper, kurang bersyukur, dan sebagainya. Namun kabar baiknya, makin ke sini aku semakin melihat bahwa tambah banyak orang mulai sadar betapa pentingnya peran kesehatan psikis dan mulai berani membicarakannya kepada audiens yang lebih luas.

Di bawah ini merupakan poin-poin penting yang kudapat setelah menyimak video-video di IG TV Mas Reza.


1. Emosi bagai cuaca; tak bisa diprediksi


Sama seperti cuaca, kita tak bisa tahu pasti kapan emosi tertentu akan datang. Yang kita mesti tahu pasti, mereka sama-sama selalu berubah. Tak pernah kekal. Kita tak perlu takut dengan emosi, sama seperti kita tak perlu takut akan cuaca mendung atau hujan. Salah satu metode yang salah namun sudah umum yaitu ‘kendalikan emosi’.

Emm... Tapi sebenarnya, kawan, emosi merupakan hal natural yang tidak bisa dikendalikan. Jika kita bisa mengendalikan emosi, tentu seluruh manusia akan merasa baik-baik saja. Namun meskipun emosi tak dapat dikendalikan, tapi perkataan dan perbuatan bisa kita kendalikan untuk menjaga keharmonisan hubungan dengan sesama. Yang perlu kita pahami bahwa emosi adalah cuaca jiwa; ia akan datang dan pergi.


2. Positive thinking bisa berdampak negatif


Terdengar seperti paradoks, ya? Lucu memang. Ini merupakan salah satu hal salah kaprah yang sangat umum. Seringkali kita mendengar orang-orang memberi saran seperti, “Cobalah berpikir positif,” ketika ada orang yang sedang sedih atau mengalami emosi negatif lainnya. Bahkan mungkin kita juga pernah mencoba berpikir positif ketika suasana hati sedang tidak nyaman. Niat seperti itu baik, tentu. Tapi apakah cara ini efektif dipakai ketika batin kita sedang terpuruk? Kurasa tidak.

Berdasarkan pengalamanku, berpikir positif memang membantu menekan emosi negatif untuk jangka pendek. Ya, untuk jangka pendek. Namun itu dia, ia hanya menekan emosi tersebut kembali ke dalam diri. Efek jangka panjangnya, mencoba berpikir positif bisa membuat batin semakin terpuruk jika dilakukan dalam kondisi diri sedang tidak baik. Kalau kata Mas Reza, ketika jiwa kita sedang mengalami emosi negatif, emosi tersebut harus dinetralkan dahulu, baru bisa lebih lancar jika ingin berpikir positif. Bukankah memaksa cuaca untuk terang saat sedang hujan merupakan hal yang melelahkan dan sia-sia?

Sedikit curhat, sekitar setahun lalu, aku selalu mencoba untuk berpikir positif setiap kali ada hal yang membuatku merasa tidak nyaman. Namun melakukan ini selalu terasa seperti terus-terusan menangkis dan menolak merasakan emosi tersebut. Lama-kelamaan, tak henti-hentinya menangkis membuat batinku terasa lelah. Sampai suatu ketika, aku memutuskan untuk berhenti menangkis. Capek, cuy. Akhirnya kutatap mata si emosi negatif ini dan membiarkannya menghantamku sampai ia lelah dan pergi sendiri.

Hasil dari melakukan hal ini lumayan mengejutkanku. Sama seperti yang dikatakan Mas Reza, emosi negatif ibarat pengamen yang suaranya gak enak didengar tapi ngotot mau tampil di panggung. Jadi dari pada tambah ngamuk, kasih aja panggung kecil, biarkan tampil di situ. Nanti kalau udah capek nyanyi juga turun sendiri.

Begitu kira-kira gambaran emosi negatif. Ternyata, seperti yang telah kualami, mempersilakannya masuk membuatnya jauh lebih cepat surut. Namun yang perlu diingat, membiarkan diri untuk merasakan emosi negatif bukan berarti sepenuhnya pasrah dan memilih berlarut-larut dalam kenegatifan tersebut. Kitalah yang mengambil jalan untuk mengobati luka batin itu agar posisi jiwa kita kembali netral. Setelah itu, barulah akan jauh lebih mudah dan efektif untuk berpikir positif.


3. KRAI (Kenali, Rasakan, Akui, Izinkan)


Menurutku ini merupakan jurus jitu mengatasi emosi negatif yang Mas Reza sebut KRAI (Kenali, Rasakan, Akui, Izinkan). Tahap pertama yang harus dilakukan: Kenali. Ketika kita tahu ada emosi negatif yang sedang datang, kenali dulu jenis emosi tersebut. Apakah itu rasa takut? Kecewa? Cemburu? Sedih? Kita harus tahu persis nama emosi apa yang sedang bertamu.

Jika sudah kenalan dengan emosi tersebut, selanjutnya: Rasakan. Coba perhatikan rasa apa yang timbul dari emosi tersebut. Apakah membuat hati terasa tersayat, ingin meledak, atau membuat kepala pusing? Apa emosi tersebut membuatmu merasa tenggelam, hancur berkeping-keping, atau membuat dada sesak? Identifikasi rasa tersebut sedetail mungkin.

Langkah selanjutnya Akui. Kalau kita akui bahwa kita sedang takut, gundah, atau semacamnya, secara sosial ini dianggap sebagai kelemahan. Namun jika kita akui pada diri sendiri, seperti, “Oh, saat ini aku benar-benar marah,” atau “Oke, aku sedang merasa kecewa,” ombak perasaan itu akan naik, berputar-putar dalam diri kita, kemudian menjadi netral dengan sendirinya. 

Tahap yang paling penting, Izinkan. Izinkan dirimu untuk merasakan rasa apa saja yang datang. Tak usah dilebih-lebihkan, tak usah disangkal. Cukup menerima. Dan ketika episode emosi itu sudah selesai, jiwamu akan lebih mudah untuk balik merasa netral seperti terlahir kembali. Damai. Sekali lagi berhasil melewati badai.